Teman
Aku adalah siswi SMA N 1
International. Di sekolah aku memiliki sahabat, namanya Ara, Beti, dan Nur.
Kami berempat selalu bersama, tak ayal kami dijuluki ‘empat sekawan’. Aku pikir
mereka real friend tapi ternyata
bukan, mereka hanya akan ada ketika aku senang. Ketika aku membutuhkan
pertolongan, mereka selalu menghilang.
Pernah suatu kali aku pergi sendiri
ke toko buku. Aku ingin membeli novel terbaru karya penulis kesukaanku, saat di
perjalanan, motor yang ku pakai mogok. Padahal hari sudah gelap, dan langit
nampak mendung pertanda hujan akan turun. Aku tak tau aku ada dimana, baru
pertama aku melewati jalan ini.
Aku menunggu seseorang untuk kuminta
pertolongannya, namun tak ada yang bisa membantu. Aku ingat aku membawa ponsel
dan segera ku hubungi Ara.
“Assalamu’alaikum Ara”
“Wa’alaikumsalam, Lia ya?”
“Iya Ra”
“Ada apa Li?”
“Ra, aku tersesat dan motor yang
kubawa mogok. Plis kamu kesini bantu aku” ucapku memelas. Cukup lama Ara tak
menjawab.
“Ra?”
“Hmm, maaf ya Li, aku sedang tidak
di rumah, aku tak bisa membantumu. Maaf sekali”
“Yah Ara, yaudah deh aku minta
tolong Beti saja” Ucapku kecewa.
Ku tutup sambungan telepon dengan
Ara, dan segera ku cari nama Beti di contact handphoneku.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaiakumsalam”
“Beti, apa kamu di rumah?”
“Ya tentu saja”
“Beti, kamu bisa jemput aku gak? Aku
tersesat dan motorku mogok”
“Kok bisa mogok?”
“Ya gak tau, ayo dong plis, disini
aku sendiri”
“Duh gimana yah, aku sedang membantu
ibu Li, aku gak bisa kesitu”
“Sebentar saja Ti, ayolah masa kamu
tega sama sahabatmu sendiri?”
“Ya gak bisa sih gimana?”
“Hmm yaudah deh makasih”
Segera ku putus sambungan telepon
dengan Beti, kesal aku dibuatnya. Kucoba telpon Nur, siapa tau dia bisa membantuku.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
“Nur, aku butuh pertolongan, bantu
aku”
“Bantu apa Li?”
“Motorku mogok”
“Kalo gitu cari bengkel terdekat,
kenapa lapor aku? Aku kan gak bisa memperbaiki motormu”
“Disini
gak ada bengkel. Mau yah kamu kesini? Disini gak ada satu orang pun yang ku
kenal”
“Tapi
ini udah malem Li, aku gak boleh keluar”
“Ayolah
plis, masa kamu tega sih”
“Mau
hujan Li, aku gak bisa, maaf”
Sambungan
telepon terputus, pulsaku habis. Dan semua yang kukira bisa membantu semuanya
beralasan. Aku kesal dan aku kecewa pada mereka. Aku mencari tempat duduk, dan
duduk sendiri. Malam ini dingin sekali, dan aku sangat lelah.
“Lia,
sedang apa kamu?” sapa Widia, teman satu sekolahku namun beda kelas.
“Eh
kamu Wi, ini nih motorku mogok, mau di dorong tapi udah cape” jelasku pada
Widia.
“Bawa
kerumahku saja Li, kebetulan ayahku bisa menyervis kendaraan bermotor”
“Gak
papa? Nanti ngrepotin ayahmu”
“Gak
kok, lagipula memang keahlian ayahku begitu”
“Baiklah”
Aku mendorong motor menuju rumah Widia, widia pun membantu aku mendorong motor
mogokku.
Sesampainya
dirumah Widia, aku dipersilahkan duduk dan motorku segera di perbaiki ayah Widia
yang ternyata orangnya ramah sekali. Aku dan Widia disuguhkan teh dan camilan.
“Wi,
apa aku boleh ikut sholat?” tanyaku, entah mengapa hatiku tak tenang, rupanya
aku belum melaksanakan sholat maghrib.
“Boleh
boleh, ayo kita berjamaah, kebetulan aku juga belum sholat” jawab Widia.
Kami
pun sholat berjama’ah. Setelah selesai, kami kembali ke ruang tamu, menunggu
motorku normal kembali. Tak lama akhirnya motorku bisa kupergunakan untuk
pulang. Aku bertrimakasih pada Widia dan ayah Widia tentunya. Aku balas
kebaikannya dengan memberikan beberapa lembar uang namun ayah Widia menolak,
untuk kutabung saja katanya.
Dan
dari pengalaman ini aku mengerti bahwa real
friend adalah bukan ia yang selalu ada disaat kita bahagia namun ia yang
juga tetap ada disaat kita membutuhkan pertolongan. Semenjak kejadian itu, aku
menjadi lebih dekat dengan Widia, dan aku sedikit menjauh dengan ketiga orang
yang mengaku sahabat.
Ini
bukan pertama kalinya mereka beralasan ketika aku membutuhkan bantuan, aku
sadar jika mereka bukan sahabat yang sebenarnya. Aku kecewa, sulit rasanya
menghapus rasa kecewa apalagi yang membuat kecewa adalah orang terdekat.
“Li,
akhir-akhir ini kamu jadi jauh sama kita. Ada apa?” tanya Beti.
“Besok
kamu mau ikut?” tanya Ara.
“Tidak,
aku ada janji dengan seseorang” jawabku datar.
“Dengan
Widia? Kamu sekarang lebih dekat dengan dia. Kamu lebih memilih menemani dia
dari pada kita?” tanya Nur, dari nada bicaranya jelas ia tak suka.
“Iyah,
karena apa? Karena disaat aku kesusahan, kalian tak pernah ada, tak pernah
mengulurkan tangan untuk sekedar membantuku. Sedangkan Widia? Walaupun kami
baru kenal, tapi dia sudah banyak membantu. Kemana kalian disaat aku kesusahan?
Selalu beralasan ketika aku meminta pertolongan. Begitukah yang dinamakan
sahabat?” tuturku, mereka diam dan merasa tak enak padaku.
“Aku
lebih memilih menemani dia yang selalu ada untukku daripada dia yang hanya ada
ketika aku senang” ucapku dan kemudian meninggalkan mereka. Mereka menatapku,
dari bola matanya tersorot penyesalan. Tapi tak ada kata maaf terlontar,
terlalu gengsi kah? Atau terlalu sulitkah mengatakan ‘aku menyesal, aku minta maaf Lia’. Ah, sudahlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar