Sabtu, 12 September 2015


Teman
            Aku adalah siswi SMA N 1 International. Di sekolah aku memiliki sahabat, namanya Ara, Beti, dan Nur. Kami berempat selalu bersama, tak ayal kami dijuluki ‘empat sekawan’. Aku pikir mereka real friend tapi ternyata bukan, mereka hanya akan ada ketika aku senang. Ketika aku membutuhkan pertolongan, mereka selalu menghilang.
            Pernah suatu kali aku pergi sendiri ke toko buku. Aku ingin membeli novel terbaru karya penulis kesukaanku, saat di perjalanan, motor yang ku pakai mogok. Padahal hari sudah gelap, dan langit nampak mendung pertanda hujan akan turun. Aku tak tau aku ada dimana, baru pertama aku melewati jalan ini.
            Aku menunggu seseorang untuk kuminta pertolongannya, namun tak ada yang bisa membantu. Aku ingat aku membawa ponsel dan segera ku hubungi Ara.
            “Assalamu’alaikum Ara”
            “Wa’alaikumsalam, Lia ya?”
            “Iya Ra”
            “Ada apa Li?”
            “Ra, aku tersesat dan motor yang kubawa mogok. Plis kamu kesini bantu aku” ucapku memelas. Cukup lama Ara tak menjawab.
            “Ra?”
            “Hmm, maaf ya Li, aku sedang tidak di rumah, aku tak bisa membantumu. Maaf sekali”
            “Yah Ara, yaudah deh aku minta tolong Beti saja” Ucapku kecewa.
            Ku tutup sambungan telepon dengan Ara, dan segera ku cari nama Beti di contact handphoneku.
            “Assalamu’alaikum”
            “Wa’alaiakumsalam”
            “Beti, apa kamu di rumah?”
            “Ya tentu saja”
            “Beti, kamu bisa jemput aku gak? Aku tersesat dan motorku mogok”
            “Kok bisa mogok?”
            “Ya gak tau, ayo dong plis, disini aku sendiri”
            “Duh gimana yah, aku sedang membantu ibu Li, aku gak bisa kesitu”
            “Sebentar saja Ti, ayolah masa kamu tega sama sahabatmu sendiri?”
            “Ya gak bisa sih gimana?”
            “Hmm yaudah deh makasih”
            Segera ku putus sambungan telepon dengan Beti, kesal aku dibuatnya. Kucoba telpon Nur, siapa tau dia bisa membantuku.
            “Assalamu’alaikum”
            “Wa’alaikumsalam”
            “Nur, aku butuh pertolongan, bantu aku”
            “Bantu apa Li?”
            “Motorku mogok”
            “Kalo gitu cari bengkel terdekat, kenapa lapor aku? Aku kan gak bisa memperbaiki motormu”
“Disini gak ada bengkel. Mau yah kamu kesini? Disini gak ada satu orang pun yang ku kenal”
“Tapi ini udah malem Li, aku gak boleh keluar”
“Ayolah plis, masa kamu tega sih”
“Mau hujan Li, aku gak bisa, maaf”
Sambungan telepon terputus, pulsaku habis. Dan semua yang kukira bisa membantu semuanya beralasan. Aku kesal dan aku kecewa pada mereka. Aku mencari tempat duduk, dan duduk sendiri. Malam ini dingin sekali, dan aku sangat lelah.
“Lia, sedang apa kamu?” sapa Widia, teman satu sekolahku namun beda kelas.
“Eh kamu Wi, ini nih motorku mogok, mau di dorong tapi udah cape” jelasku pada Widia.
“Bawa kerumahku saja Li, kebetulan ayahku bisa menyervis kendaraan bermotor”
“Gak papa? Nanti ngrepotin ayahmu”
“Gak kok, lagipula memang keahlian ayahku begitu”
“Baiklah” Aku mendorong motor menuju rumah Widia, widia pun membantu aku mendorong motor mogokku.
Sesampainya dirumah Widia, aku dipersilahkan duduk dan motorku segera di perbaiki ayah Widia yang ternyata orangnya ramah sekali. Aku dan Widia disuguhkan teh dan camilan.
“Wi, apa aku boleh ikut sholat?” tanyaku, entah mengapa hatiku tak tenang, rupanya aku belum melaksanakan sholat maghrib.
“Boleh boleh, ayo kita berjamaah, kebetulan aku juga belum sholat” jawab Widia.
Kami pun sholat berjama’ah. Setelah selesai, kami kembali ke ruang tamu, menunggu motorku normal kembali. Tak lama akhirnya motorku bisa kupergunakan untuk pulang. Aku bertrimakasih pada Widia dan ayah Widia tentunya. Aku balas kebaikannya dengan memberikan beberapa lembar uang namun ayah Widia menolak, untuk kutabung saja katanya.
Dan dari pengalaman ini aku mengerti bahwa real friend adalah bukan ia yang selalu ada disaat kita bahagia namun ia yang juga tetap ada disaat kita membutuhkan pertolongan. Semenjak kejadian itu, aku menjadi lebih dekat dengan Widia, dan aku sedikit menjauh dengan ketiga orang yang mengaku sahabat.
Ini bukan pertama kalinya mereka beralasan ketika aku membutuhkan bantuan, aku sadar jika mereka bukan sahabat yang sebenarnya. Aku kecewa, sulit rasanya menghapus rasa kecewa apalagi yang membuat kecewa adalah orang terdekat.
“Li, akhir-akhir ini kamu jadi jauh sama kita. Ada apa?” tanya Beti.
“Gak ada apa-apa kok” jawabku dengan senyuman.
“Besok kamu mau ikut?” tanya Ara.
“Tidak, aku ada janji dengan seseorang” jawabku datar.
“Dengan Widia? Kamu sekarang lebih dekat dengan dia. Kamu lebih memilih menemani dia dari pada kita?” tanya Nur, dari nada bicaranya jelas ia tak suka.
“Iyah, karena apa? Karena disaat aku kesusahan, kalian tak pernah ada, tak pernah mengulurkan tangan untuk sekedar membantuku. Sedangkan Widia? Walaupun kami baru kenal, tapi dia sudah banyak membantu. Kemana kalian disaat aku kesusahan? Selalu beralasan ketika aku meminta pertolongan. Begitukah yang dinamakan sahabat?” tuturku, mereka diam dan merasa tak enak padaku.
“Aku lebih memilih menemani dia yang selalu ada untukku daripada dia yang hanya ada ketika aku senang” ucapku dan kemudian meninggalkan mereka. Mereka menatapku, dari bola matanya tersorot penyesalan. Tapi tak ada kata maaf terlontar, terlalu gengsi kah? Atau terlalu sulitkah mengatakan ‘aku menyesal, aku minta maaf Lia’. Ah, sudahlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar