Pelajaran berharga
Dinginnya
angin malam terasa menusuk kulit Nana. Ditambah lagi ia duduk dilantai yang
dingin, kakinya ditekuk dan dipeluk, air matanya terus mengalir melewati
pipinya. Matanya sembab dan memerah, sudah 3 jam lebih ia menangis di pojokan
kamar, sendiri. Tangisnya ia sembunyikan.
Rumah
megah nan besar ini bagaikan neraka. Tak lagi ada kasih sayang diantara
penghuni rumah. Ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi ini.
**
“Hey,
kamu ini kenapa? Menangis lagi?” sapa Arif teman satu kelasnya. Nana melirik
sebal. Saat KBM selesai, kantin sepi. Mereka biasanya mampir ke kantin sebelum
pulang kerumah masing-masing.
“Sudahlah
Nana manis, jangan bermuram durja seperti itu. Mangke ayumu ilang piye?” tambah Arif menghibur. Nana pura-pura tak
mendengar.
“Orangtuamu
mungkin sedang sama-sama emosi, tak perlu dipikirkan, mereka tau yang terbaik”
Arif mulai berdalih.
“Diamlah!
Atau mulutmu akan ku plester?” ucap Nana dengan nada malas. Jarinya sibuk
menari diatas keyboard laptop yang ada dihadapannya.
“Nana
manis, kamu jangan marah-marah. Nanti cepet tua loh” Arif memandangi sahabatnya
itu, senyumnya masih terus mengembang di bibirnya.
“Bomat”
jawab Nana singkat.
“Kamu
ini sedang apa? Sibuk banget” Tanya Arif kepo. Dilihatnya monitor laptop Nana,
namun belum sempat melihat sudah ditutup oleh Nana.
“Eh
Rif, besok aku mau berpetualang. Mau ikut tak?” tutur Nana mulai bersemangat,
senyum yang dirindukan Arif hadir kembali. Arif adalah sahabat sedari SMP yang
paling mengerti. Bagi Nana, Arif sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri, usia
mereka beda 1 tahun. Sifat Arif yang mampu mengimbangi labilnya Nana membuat
persahabatan mereka semakin erat.
“Tak
lah, besok hari sabtu Na. Minggu saja bagaimana?” jawab Arif.
“Hmm,
kamu saja yang hari minggu. Aku mau besok saja. Aku juga bisa pergi sendiri.”
Ucap Nana mulai bete lagi, ia bangkit dari tempat duduknya, membayar bakso yang
ia makan. Dan pergi menginggalkan Arif.
“Oke
oke aku ikut. Memangnya mau kemana?” jerit Arif mengalah, ia tak tega membiarkan
sahabatnya yang sedang kacau balau itu pergi sendiri. Arif tau, Nana hanya
butuh perhatian dari orang sekitarnya.
“Kita
pergi ke Taman Kyai Langgeng Magelang” jawab Nana singkat.
“Hey
kamu gila? Magelang itu jauh” ucap Arif membuntuti Nana.
“Terserah
saja. Kamu mau ikut tidak?” tanya Nana, ditatapnya sahabatnya yang plin-plan
itu.
“Jangan
konyol Nana manis, kita baru saja masuk SMA. Kita hanya anak belasan tahun yang
belum dewasa. Kita pergi ke pantai saja bagaimana? Kamu kan suka suasana
pantai, oke manis?” bujuk Arif.
“Oke,
aku pergi ke Magelang dan kamu silahkan pergi ke pantai” ucap Nana memutuskan,
ia bergegas pulang. Arif diam, dipandanginya punggung sahabat tersayangnya yang
mulai menjauh. Ia faham dengan sifat Nana yang keras kepala.
Setibanya
dirumah Nana disambut dengan keributan orangtuanya. Ia muak, ia akan pergi dari
rumah. Ia benci hidup dirumah, ia sangat membenci orangtuanya, mereka sama
sekali tidak peduli dengan perasaan anaknya, batin Nana terluka.
Ia
segera masuk kamar dan dijatuhkannya dirinya ke atas kasur, ia terisak. Isaknya
ia sembunyikan didalam bantal bergambar popeye dan olive itu, hadiah dari
ayahnya sewaktu ulang tahunnya dulu. Dulu ia sangat menyayangi ayahnya, ayahnya
adalah figur terhebat dalam hidupnya, profesi ayahnya adalah pelaut, sifatnya
keras, karena memang ayahnya hidup di tengah laut yang keras, mau tak mau
karakternya terpatri dan manjadi pribadi yang keras.
Pria
berotot, berbadan kekar itu kini berubah menjadi monster yang seram. Perlakuan
lembut pada keluarganya berubah menjadi kasar. Suka bermain tangan jika sedang
bertengkar dengan ibunya dan ibunya yang suka memicu pertengkaran. Ah... aku benci mereka.
Dihapus
air matanya dan mulai berbenah. Perjalanan panjang akan dimulai. Tapi
sejujurnya ia ragu jika pergi sendiri, ia ingin ada yang menemani. ”Uh, anak tunggal yang tak memiliki
siapa-siapa. Teman? Arif? Penakut!” ucapnya sendiri kepada seisi kamar.
Drr
drr.drr drr
Ponselnya
bergetar, 1 sms masuk.
Arif : Aku jemput kamu pukul 6.30 pagi. Kita
ke Magelang.
Senyum Nana mulai mengembang, “Ini
baru yang namanya sahabat” teriaknya senang.
**
“Apa
kamu sudah izin dengan orangtuamu?” tanya Arif. Nana tak menjawab, pandangannya
tertuju pada gadis kecil yang sedang berjualan di tepi jalan.
“Hey
kamu patung? Aku ini sedang bertanya” ucap Arif dengan nada kesal.
“Gadis
kecil itu tidak sekolah Rif?” tanya Nana seraya memberi kode dengan tatapan
yang tertuju pada gadis kecil itu.
“Mungkin
dia bolos seperti kita” jawab Arif enteng. Nana menatap Arif dengan dengan
tatapan tajam.
“Hey
jangan menatapku seperti itu, oke oke lebih jelasnya kamu tanya saja pada gadis
kecil itu” ucap Arif. Nana membenarkan ucapan Arif. Ia berjalan menuju gadis
kecil itu, Arif memandanginya dari kejauhan.
“Jualan
apa de?” tanya Nana memulai percakapan.
“Jualan
gorengan ka” jawab gadis kecil itu.
“Kamu
gak sekolah?” tanya Nana. Gadis kecil itu memandangi Nana lalu menggeleng.
“Kenapa?”
“Gak
punya biaya mba”
“Orangtuamu kemana?”
“Ayahku lumpuh, ibuku sudah disurga”
wajah gadis kecil yang penuh peluh karena raja siang mulai terlihat murung nan
sedih.
“Maaf de, mba hanya ingin tau”
“Mba sendiri kenapa gak sekolah?”
tanya gadis kecil, pertanyaan yang membuat Nana tercekat. Nana diam, Arif yang
sudah berada disamping Nana tersenyum. Ia mendengarkan percakapan dua gadis
yang sama-sama tegar.
“Mba masih sekolah kan? Kenapa ada
di terminal padahal kan ini jam sekolah”
“Bolos sekolah” jawab Nana singkat.
“Loh kenapa?”
“Males”
“Mba gak boleh gitu, aku saja ingin
sekolah. Masa mba yang sekolah malah bolos sih?” Nana diam.
“Dulu, sewaktu ayahku masih sehat
dan ibuku masih hidup, aku bisa sekolah. Sampai maut menjemput ibuku, ibuku
jatuh sakit saat menerima surat cerai dari ayahku. Ayahku menikahi perempuan
lain, awalnya aku sangat benci keadaan itu, aku benci perempuan perusak
kebahagiaan keluargaku, akupun benci ayahku. Dan tak berselang lama dengan
kematian ibuku, ayahku kecelakaan, dan sekarang lumpuh. Perempuan perusak itu
pergi setelah tau ayahku tak bisa apa-apa. Dan sebagai anak yang berbakti,
tugasku adalah merawat ayahku. Rasa benci pada ayah hilang, aku kasihan dengan
keadaan ayah yang sekarang” gadis kecil itu bercerita dan membuat hati Nana
bergetar, ia kasihan dengan gadis kecil ini. Ia pun salut karena gadis kecil
ini begitu tegar.
“Aku menyesal telah membenci ayahku,
dan aku menyesal pernah menjadi anak nakal yang tak menuruti ucapan ibuku.
Ibuku telah tiada, aku harus patuh pada ayahku. Aku menyesal, seandainya bisa
kuputar ulang masa lalu, aku akan berbakti pada keduanya.” Tambah gadis kecil
itu.
Mendengar tutur gadis keci itu Nana pun
teringat kelakuannya kepada orangtuanya. Ia tak pernah menjawab pertanyaan
ibunya, berangkat dan pulang sekolah tak berpamitan, ia selalu membantah
omongan orangtuanya. Bagaimana jika mereka pergi untuk selamanya? Ia belum
berbakti pada mereka. Anak macam apa aku
ini? Batinnya menjerit. Ia menangis, ia menyesal. Ia pun rindu pelukan
ibunya, ia rindu cerita ayahnya ketika melaut, ia rindu masakan ibunya dan ia
rindu makan malam bersama keluarganya. Nana terisak.
Arif berusaha menenangkan Nana,
gadis kecil itu pun ikut menenangkan Nana. Setelah tangisnya mereda, ia
bangkit.
“De, terimakasih telah
menyadarkanku. Ini ada sedikit rezeki untukmu, mudah-mudahan ayahmu mendapat
keajaiban, bisa beraktifitas seperti dulu” ucap Nana menjabat tangan gadis
kecil itu dan memberikan 5 lembar uang seratus ribuan.
“Terimakasih kembali mba, Aamiin ya
Robbal’alamin. Tapi ini terlalu banyak mba”
“Tabung saja. Semoga bermanfaat”
ucap Nana, tangannya membelai rambut gadis kecil itu.
“Kita pulang. Perjalanan tlah
berakhir. Semua tangis harus diakhiri” ucap Nana melangkah menuju warung makan.
Arif lega.
“Loh kok? Katanya mau pulang?” ucap
Arif bingung.
“Kita makan dulu, setelah itu sholat
dan pergi ke taman Kyai Langgeng sebentar kemudian pulang” jelas Nana. Arif
mengangguk saja, kebetulan ia lapar.
**
Pukul
21.00 Nana sampai dirumah, ternyata ayah dan ibunya telah menunggunya.
“Nana,
kamu kemana saja sayang?” tanya ibunya, terpancar kekhawatiran dari wajahnya.
“Bu,
maafin Nana. Sikap Nana selama ini pasti menyakiti ibu” dibenamkan wajahnya
dalam pelukan ibunya, ia menangis.
“Ayah
juga minta maaf sayang, kami menyesal selalu bertengkar dihadapanmu” ucap ayah
Nana.
“Iya
ayah, Nana sayang ayah” Nana pun memeluk ayah dan ibunya.
Dan
malam itu, rumah yang seperti neraka berubah menjadi rumah pelangi yang indah. Ternyata aku hidup dikelilingi orang-orang
yang menyayangiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar