Sabtu, 12 September 2015


Pelajaran berharga
            Dinginnya angin malam terasa menusuk kulit Nana. Ditambah lagi ia duduk dilantai yang dingin, kakinya ditekuk dan dipeluk, air matanya terus mengalir melewati pipinya. Matanya sembab dan memerah, sudah 3 jam lebih ia menangis di pojokan kamar, sendiri. Tangisnya ia sembunyikan.
            Rumah megah nan besar ini bagaikan neraka. Tak lagi ada kasih sayang diantara penghuni rumah. Ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi ini.
**
            “Hey, kamu ini kenapa? Menangis lagi?” sapa Arif teman satu kelasnya. Nana melirik sebal. Saat KBM selesai, kantin sepi. Mereka biasanya mampir ke kantin sebelum pulang kerumah masing-masing.
            “Sudahlah Nana manis, jangan bermuram durja seperti itu. Mangke ayumu ilang piye?” tambah Arif menghibur. Nana pura-pura tak mendengar.
            “Orangtuamu mungkin sedang sama-sama emosi, tak perlu dipikirkan, mereka tau yang terbaik” Arif mulai berdalih.
            “Diamlah! Atau mulutmu akan ku plester?” ucap Nana dengan nada malas. Jarinya sibuk menari diatas keyboard laptop yang ada dihadapannya.
            “Nana manis, kamu jangan marah-marah. Nanti cepet tua loh” Arif memandangi sahabatnya itu, senyumnya masih terus mengembang di bibirnya.
            “Bomat” jawab Nana singkat.
            “Kamu ini sedang apa? Sibuk banget” Tanya Arif kepo. Dilihatnya monitor laptop Nana, namun belum sempat melihat sudah ditutup oleh Nana.
            “Eh Rif, besok aku mau berpetualang. Mau ikut tak?” tutur Nana mulai bersemangat, senyum yang dirindukan Arif hadir kembali. Arif adalah sahabat sedari SMP yang paling mengerti. Bagi Nana, Arif sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri, usia mereka beda 1 tahun. Sifat Arif yang mampu mengimbangi labilnya Nana membuat persahabatan mereka semakin erat.
            “Tak lah, besok hari sabtu Na. Minggu saja bagaimana?” jawab Arif.
            “Hmm, kamu saja yang hari minggu. Aku mau besok saja. Aku juga bisa pergi sendiri.” Ucap Nana mulai bete lagi, ia bangkit dari tempat duduknya, membayar bakso yang ia makan. Dan pergi menginggalkan Arif.
            “Oke oke aku ikut. Memangnya mau kemana?” jerit Arif mengalah, ia tak tega membiarkan sahabatnya yang sedang kacau balau itu pergi sendiri. Arif tau, Nana hanya butuh perhatian dari orang sekitarnya.
            “Kita pergi ke Taman Kyai Langgeng Magelang” jawab Nana singkat.
            “Hey kamu gila? Magelang itu jauh” ucap Arif membuntuti Nana.
            “Terserah saja. Kamu mau ikut tidak?” tanya Nana, ditatapnya sahabatnya yang plin-plan itu.
            “Jangan konyol Nana manis, kita baru saja masuk SMA. Kita hanya anak belasan tahun yang belum dewasa. Kita pergi ke pantai saja bagaimana? Kamu kan suka suasana pantai, oke manis?” bujuk Arif.
            “Oke, aku pergi ke Magelang dan kamu silahkan pergi ke pantai” ucap Nana memutuskan, ia bergegas pulang. Arif diam, dipandanginya punggung sahabat tersayangnya yang mulai menjauh. Ia faham dengan sifat Nana yang keras kepala.
            Setibanya dirumah Nana disambut dengan keributan orangtuanya. Ia muak, ia akan pergi dari rumah. Ia benci hidup dirumah, ia sangat membenci orangtuanya, mereka sama sekali tidak peduli dengan perasaan anaknya, batin Nana terluka.
            Ia segera masuk kamar dan dijatuhkannya dirinya ke atas kasur, ia terisak. Isaknya ia sembunyikan didalam bantal bergambar popeye dan olive itu, hadiah dari ayahnya sewaktu ulang tahunnya dulu. Dulu ia sangat menyayangi ayahnya, ayahnya adalah figur terhebat dalam hidupnya, profesi ayahnya adalah pelaut, sifatnya keras, karena memang ayahnya hidup di tengah laut yang keras, mau tak mau karakternya terpatri dan manjadi pribadi yang keras.
            Pria berotot, berbadan kekar itu kini berubah menjadi monster yang seram. Perlakuan lembut pada keluarganya berubah menjadi kasar. Suka bermain tangan jika sedang bertengkar dengan ibunya dan ibunya yang suka memicu pertengkaran. Ah... aku benci mereka.
            Dihapus air matanya dan mulai berbenah. Perjalanan panjang akan dimulai. Tapi sejujurnya ia ragu jika pergi sendiri, ia ingin ada yang menemani. ”Uh, anak tunggal yang tak memiliki siapa-siapa. Teman? Arif? Penakut!” ucapnya sendiri kepada seisi kamar.
            Drr drr.drr drr
            Ponselnya bergetar, 1 sms masuk.
Arif : Aku jemput kamu pukul 6.30 pagi. Kita ke Magelang.
          Senyum Nana mulai mengembang, “Ini baru yang namanya sahabat” teriaknya senang.
**
            “Apa kamu sudah izin dengan orangtuamu?” tanya Arif. Nana tak menjawab, pandangannya tertuju pada gadis kecil yang sedang berjualan di tepi jalan.
            “Hey kamu patung? Aku ini sedang bertanya” ucap Arif dengan nada kesal.
            “Gadis kecil itu tidak sekolah Rif?” tanya Nana seraya memberi kode dengan tatapan yang tertuju pada gadis kecil itu.
            “Mungkin dia bolos seperti kita” jawab Arif enteng. Nana menatap Arif dengan dengan tatapan tajam.
            “Hey jangan menatapku seperti itu, oke oke lebih jelasnya kamu tanya saja pada gadis kecil itu” ucap Arif. Nana membenarkan ucapan Arif. Ia berjalan menuju gadis kecil itu, Arif memandanginya dari kejauhan.
            “Jualan apa de?” tanya Nana memulai percakapan.
            “Jualan gorengan ka” jawab gadis kecil itu.
            “Kamu gak sekolah?” tanya Nana. Gadis kecil itu memandangi Nana lalu menggeleng.
            “Kenapa?”
            “Gak punya biaya mba”
            “Orangtuamu kemana?”
            “Ayahku lumpuh, ibuku sudah disurga” wajah gadis kecil yang penuh peluh karena raja siang mulai terlihat murung nan sedih.
            “Maaf de, mba hanya ingin tau”
            “Mba sendiri kenapa gak sekolah?” tanya gadis kecil, pertanyaan yang membuat Nana tercekat. Nana diam, Arif yang sudah berada disamping Nana tersenyum. Ia mendengarkan percakapan dua gadis yang sama-sama tegar.
            “Mba masih sekolah kan? Kenapa ada di terminal padahal kan ini jam sekolah”
            “Bolos sekolah” jawab Nana singkat.
            “Loh kenapa?”
            “Males”
            “Mba gak boleh gitu, aku saja ingin sekolah. Masa mba yang sekolah malah bolos sih?” Nana diam.
            “Dulu, sewaktu ayahku masih sehat dan ibuku masih hidup, aku bisa sekolah. Sampai maut menjemput ibuku, ibuku jatuh sakit saat menerima surat cerai dari ayahku. Ayahku menikahi perempuan lain, awalnya aku sangat benci keadaan itu, aku benci perempuan perusak kebahagiaan keluargaku, akupun benci ayahku. Dan tak berselang lama dengan kematian ibuku, ayahku kecelakaan, dan sekarang lumpuh. Perempuan perusak itu pergi setelah tau ayahku tak bisa apa-apa. Dan sebagai anak yang berbakti, tugasku adalah merawat ayahku. Rasa benci pada ayah hilang, aku kasihan dengan keadaan ayah yang sekarang” gadis kecil itu bercerita dan membuat hati Nana bergetar, ia kasihan dengan gadis kecil ini. Ia pun salut karena gadis kecil ini begitu tegar.
            “Aku menyesal telah membenci ayahku, dan aku menyesal pernah menjadi anak nakal yang tak menuruti ucapan ibuku. Ibuku telah tiada, aku harus patuh pada ayahku. Aku menyesal, seandainya bisa kuputar ulang masa lalu, aku akan berbakti pada keduanya.” Tambah gadis kecil itu.
            Mendengar tutur gadis keci itu Nana pun teringat kelakuannya kepada orangtuanya. Ia tak pernah menjawab pertanyaan ibunya, berangkat dan pulang sekolah tak berpamitan, ia selalu membantah omongan orangtuanya. Bagaimana jika mereka pergi untuk selamanya? Ia belum berbakti pada mereka. Anak macam apa aku ini? Batinnya menjerit. Ia menangis, ia menyesal. Ia pun rindu pelukan ibunya, ia rindu cerita ayahnya ketika melaut, ia rindu masakan ibunya dan ia rindu makan malam bersama keluarganya. Nana terisak.
            Arif berusaha menenangkan Nana, gadis kecil itu pun ikut menenangkan Nana. Setelah tangisnya mereda, ia bangkit.
            “De, terimakasih telah menyadarkanku. Ini ada sedikit rezeki untukmu, mudah-mudahan ayahmu mendapat keajaiban, bisa beraktifitas seperti dulu” ucap Nana menjabat tangan gadis kecil itu dan memberikan 5 lembar uang seratus ribuan.
            “Terimakasih kembali mba, Aamiin ya Robbal’alamin. Tapi ini terlalu banyak mba”
            “Tabung saja. Semoga bermanfaat” ucap Nana, tangannya membelai rambut gadis kecil itu.
            “Kita pulang. Perjalanan tlah berakhir. Semua tangis harus diakhiri” ucap Nana melangkah menuju warung makan. Arif lega.
            “Loh kok? Katanya mau pulang?” ucap Arif bingung.
            “Kita makan dulu, setelah itu sholat dan pergi ke taman Kyai Langgeng sebentar kemudian pulang” jelas Nana. Arif mengangguk saja, kebetulan ia lapar.
**
            Pukul 21.00 Nana sampai dirumah, ternyata ayah dan ibunya telah menunggunya.
            “Nana, kamu kemana saja sayang?” tanya ibunya, terpancar kekhawatiran dari wajahnya.
            “Bu, maafin Nana. Sikap Nana selama ini pasti menyakiti ibu” dibenamkan wajahnya dalam pelukan ibunya, ia menangis.
            “Maafin ibu juga Na” dibelainya rambut Nana dengan penuh kasih sayang.
            “Ayah juga minta maaf sayang, kami menyesal selalu bertengkar dihadapanmu” ucap ayah Nana.
            “Iya ayah, Nana sayang ayah” Nana pun memeluk ayah dan ibunya.
            Dan malam itu, rumah yang seperti neraka berubah menjadi rumah pelangi yang indah. Ternyata aku hidup dikelilingi orang-orang yang menyayangiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar