Teman Terbaik
Eun Bi adalah siswi SMA N 1 International. Di sekolah Eun Bi memiliki sahabat, namanya Ara, Beti, dan Nur. Mereka berempat selalu bersama, tak disangka mereka dijuluki ‘empat sekawan’. Mereka selalu bersama saat di sekolah, main bersama sampai shopping pun bersama.
Hari esok telah tiba, hari ini hari senin saat nya di sekolah mereka melaksanakan upacara bendera. Mereka berempat berangkat ke sekolah bersama. Sesampai nya di sekolah, mereka berjalan ke kelas untuk menaruh tas mereka, lalu mereka menuju ke lapangan upacara.
Setelah upacara berakhir mereka masuk ke kelas bersama. Beberapa menit kemudian Ibu guru masuk dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pun dimulai. Kemudian setelah beberapa jam berlalu "bel" pun berbunyi, jam istirahat telah tiba, mereka segera bergegas menuju kantin yang ada di sekolah mereka untuk makan bersama. Selesai nya mereka makan, mereka masih ada KBM beberapa mata pelajaran lagi.
Beberapa jam terlewati bel pun berbunyi pertanda KBM telah selesai. Mereka berjalan keluar kelas untuk pulang ke rumah nya masing-masing.
Pada saat pulang sekolah Eun Bi pergi sendiri ke toko buku. Eun Bi ingin membeli novel terbaru karya penulis kesukaannya, saat di perjalanan, motor yang dipakai Eun Bi mogok. Padahal hari sudah gelap, dan langit nampak mendung pertanda hujan akan turun. Eun Bi tak tau ia ada dimana, baru pertama kali ia melewati jalan ini.
Eun Bi menunggu seseorang untuk diminta pertolongannya, namun tak ada yang bisa membantu. Eun ingat ia membawa ponsel dan segera ku hubungi Ara.
“Assalamu’alaikum Ara”
“Wa’alaikumsalam, Eun Bi ya?”
“Iya Ra”
“Ada apa Bi?”
“Ra, aku tersesat dan motor yang kubawa mogok. Tolong kamu kesini bantu aku” ucap Eun Bi memelas. Cukup lama Ara tak menjawab.
“Ra?”
“Hmm, maaf ya Bi, aku sedang tidak di rumah, aku tak bisa membantumu. Maaf sekali”
“Yah Ara, ya sudah aku minta tolong Beti saja” Ucapnya kecewa.
Eun Bi tutup sambungan telepon dengan Ara, dan segera ia cari nama Beti di contact handphonenya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaiakumsalam”
“Beti, apa kamu di rumah?”
“Ya tentu saja”
“Beti, kamu bisa jemput aku tidak? Aku tersesat dan motorku mogok”
“Kok bisa mogok?”
“Ya aku tidak tau, ayo dong tolong, disini aku sendiri”
“Duh gimana yah, aku sedang membantu ibu Bi, aku tidak bisa kesitu”
“Sebentar saja Ti, ayolah masa kamu tega sama sahabatmu sendiri?”
“Ya tidak bisa sih mau gimana?”
“Hmm ya sudah makasih”
Segera Eun Bi putus sambungan telepon dengan Beti, kesal ia dibuatnya. Eun Bi mencoba menelpon Nur, siapa tau dia bisa membantunya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
“Nur, aku butuh pertolongan, bantu aku”
“Bantu apa Bi?”
“Motorku mogok”
“Kalau begitu kejadiannya cari bengkel terdekat, kenapa lapor aku? Aku kan tidak bisa memperbaiki motormu”
“Disini tidak ada bengkel. Mau yah kamu kesini? Disini tidak ada satu orang pun yang ku kenal”
“Tapi ini udah malem Bi, aku tidak boleh keluar”
“Ayolah Nur tolong aku, masa kamu tega sama aku”
“Mau hujan Bi, aku tidak bisa, maaf”
Sambungan telepon terputus, pulsa Eun Bi pun habis. Dan semua yang ia kira bisa membantu semuanya beralasan. Eun Bi kesal dan ia kecewa pada mereka. Eun Bi mencari tempat duduk, dan duduk sendiri. Malam itu dingin sekali, dan ia sangat lelah.
Hari pun sudah gelap.
“Eun Bi, sedang apa kamu?” sapa Widia, teman satu sekolahnya namun beda kelas.
“Eh kamu Wi, ini motorku mogok, mau di dorong tapi udah cape” jelasnya pada Widia.
“Bawa kerumahku saja Bi, kebetulan ayahku bisa menyervis kendaraan bermotor”
“Tidak apa-apa emangnya? Nanti ngrepotin ayahmu”
“Tidak kok, lagipula memang keahlian ayahku begitu”
“Baiklah” Eun Bi mendorong motor menuju rumah Widia, widia pun ikut membantu mendorong motor mogoknya.
Sesampainya di rumah Widia, Eun Bi dipersilahkan duduk dan motornya segera di perbaiki ayah Widia yang ternyata orangnya ramah sekali. Eun Bi dan Widia disuguhkan teh dan camilan. Hari sudah petang, menunjukkan waktu sholat maghrib.
“Wi, apa aku boleh ikut sholat?” tanya Eun Bi, entah mengapa hatinya tak tenang, karena ia belum melaksanakan sholat maghrib.
“Boleh boleh, ayo kita berjamaah, kebetulan aku juga belum sholat” jawab Widia.
Mereka pun sholat berjama’ah. Setelah selesai, mereka kembali ke ruang tamu, menunggu motorku normal kembali. Tak lama akhirnya motor Eun Bi bisa iah pergunakan untuk pulang. Eun Bi berterimakasih pada Widia dan ayah Widia tentunya. Eun Bi balas kebaikannya dengan memberikan beberapa lembar uang namun ayah Widia menolak, untuk ia tabung saja katanya.
Dan dari pengalaman ini Eun Bi mengerti bahwa real friend adalah bukan ia yang selalu ada disaat kita bahagia namun ia yang juga tetap ada disaat kita membutuhkan pertolongan. Semenjak kejadian itu, Eun Bi menjadi lebih dekat dengan Widia, dan ia sedikit menjauh dengan ketiga orang yang mengaku sahabat.
Ini bukan pertama kalinya mereka beralasan ketika Eun Bi membutuhkan bantuan, ia sadar jika mereka bukan sahabat yang sebenarnya. Eun Bi kecewa, sulit rasanya menghapus rasa kecewa apalagi yang membuat kecewa adalah orang terdekat.
Selasa, 15 September 2015
Cerpen Teman Terbaik
Teman Terbaik
Eun Bi adalah siswi SMA N 1 International. Di sekolah Eun Bi memiliki sahabat, namanya Ara, Beti, dan Nur. Mereka berempat selalu bersama, tak disangka mereka dijuluki ‘empat sekawan’. Mereka selalu bersama saat di sekolah, main bersama sampai shopping pun bersama.
Hari esok telah tiba, hari ini hari senin saat nya di sekolah mereka melaksanakan upacara bendera. Mereka berempat berangkat ke sekolah bersama. Sesampai nya di sekolah, mereka berjalan ke kelas untuk menaruh tas mereka, lalu mereka menuju ke lapangan upacara.
Setelah upacara berakhir mereka masuk ke kelas bersama. Beberapa menit kemudian Ibu guru masuk dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pun dimulai. Kemudian setelah beberapa jam berlalu "bel" pun berbunyi, jam istirahat telah tiba, mereka segera bergegas menuju kantin yang ada di sekolah mereka untuk makan bersama. Selesai nya mereka makan, mereka masih ada KBM beberapa mata pelajaran lagi.
Beberapa jam terlewati bel pun berbunyi pertanda KBM telah selesai. Mereka berjalan keluar kelas untuk pulang ke rumah nya masing-masing.
Pada saat pulang sekolah Eun Bi pergi sendiri ke toko buku. Eun Bi ingin membeli novel terbaru karya penulis kesukaannya, saat di perjalanan, motor yang dipakai Eun Bi mogok. Padahal hari sudah gelap, dan langit nampak mendung pertanda hujan akan turun. Eun Bi tak tau ia ada dimana, baru pertama kali ia melewati jalan ini.
Eun Bi menunggu seseorang untuk diminta pertolongannya, namun tak ada yang bisa membantu. Eun ingat ia membawa ponsel dan segera ku hubungi Ara.
“Assalamu’alaikum Ara”
“Wa’alaikumsalam, Eun Bi ya?”
“Iya Ra”
“Ada apa Bi?”
“Ra, aku tersesat dan motor yang kubawa mogok. Tolong kamu kesini bantu aku” ucap Eun Bi memelas. Cukup lama Ara tak menjawab.
“Ra?”
“Hmm, maaf ya Bi, aku sedang tidak di rumah, aku tak bisa membantumu. Maaf sekali”
“Yah Ara, ya sudah aku minta tolong Beti saja” Ucapnya kecewa.
Eun Bi tutup sambungan telepon dengan Ara, dan segera ia cari nama Beti di contact handphonenya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaiakumsalam”
“Beti, apa kamu di rumah?”
“Ya tentu saja”
“Beti, kamu bisa jemput aku tidak? Aku tersesat dan motorku mogok”
“Kok bisa mogok?”
“Ya aku tidak tau, ayo dong tolong, disini aku sendiri”
“Duh gimana yah, aku sedang membantu ibu Bi, aku tidak bisa kesitu”
“Sebentar saja Ti, ayolah masa kamu tega sama sahabatmu sendiri?”
“Ya tidak bisa sih mau gimana?”
“Hmm ya sudah makasih”
Segera Eun Bi putus sambungan telepon dengan Beti, kesal ia dibuatnya. Eun Bi mencoba menelpon Nur, siapa tau dia bisa membantunya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
“Nur, aku butuh pertolongan, bantu aku”
“Bantu apa Bi?”
“Motorku mogok”
“Kalau begitu kejadiannya cari bengkel terdekat, kenapa lapor aku? Aku kan tidak bisa memperbaiki motormu”
“Disini tidak ada bengkel. Mau yah kamu kesini? Disini tidak ada satu orang pun yang ku kenal”
“Tapi ini udah malem Bi, aku tidak boleh keluar”
“Ayolah Nur tolong aku, masa kamu tega sama aku”
“Mau hujan Bi, aku tidak bisa, maaf”
Sambungan telepon terputus, pulsa Eun Bi pun habis. Dan semua yang ia kira bisa membantu semuanya beralasan. Eun Bi kesal dan ia kecewa pada mereka. Eun Bi mencari tempat duduk, dan duduk sendiri. Malam itu dingin sekali, dan ia sangat lelah.
Hari pun sudah gelap.
“Eun Bi, sedang apa kamu?” sapa Widia, teman satu sekolahnya namun beda kelas.
“Eh kamu Wi, ini motorku mogok, mau di dorong tapi sudah cape” jelasnya pada Widia.
“Bawa kerumahku saja Bi, kebetulan ayahku bisa menyervis kendaraan bermotor”
“Tidak apa-apa emangnya? Nanti ngrepotin ayahmu”
“Tidak kok, lagipula memang keahlian ayahku begitu”
“Baiklah” Eun Bi mendorong motor menuju rumah Widia, widia pun ikut membantu mendorong motor mogoknya.
Sesampainya di rumah Widia, Eun Bi dipersilahkan duduk dan motornya segera di perbaiki ayah Widia yang ternyata orangnya ramah sekali. Eun Bi dan Widia disuguhkan teh dan camilan. Hari sudah petang, menunjukkan waktu sholat maghrib.
“Wi, apa aku boleh ikut sholat?” tanya Eun Bi, entah mengapa hatinya tak tenang, karena ia belum melaksanakan sholat maghrib.
“Boleh boleh, ayo kita berjamaah, kebetulan aku juga belum sholat” jawab Widia.
Mereka pun sholat berjama’ah. Setelah selesai, mereka kembali ke ruang tamu, menunggu motorku normal kembali. Tak lama akhirnya motor Eun Bi bisa ia pergunakan untuk pulang. Eun Bi berterimakasih pada Widia dan ayah Widia tentunya. Eun Bi balas kebaikannya dengan memberikan beberapa lembar uang namun ayah Widia menolak, untuk ia tabung saja katanya.
Dan dari pengalaman ini Eun Bi mengerti bahwa real friend adalah bukan ia yang selalu ada disaat kita bahagia namun ia yang juga tetap ada disaat kita membutuhkan pertolongan. Semenjak kejadian itu, Eun Bi menjadi lebih dekat dengan Widia, dan ia sedikit menjauh dengan ketiga orang yang mengaku sahabat.
Ini bukan pertama kalinya mereka beralasan ketika Eun Bi membutuhkan bantuan, ia sadar jika mereka bukan sahabat yang sebenarnya. Eun Bi kecewa, sulit rasanya menghapus rasa kecewa apalagi yang membuat kecewa adalah orang terdekat.
Eun Bi adalah siswi SMA N 1 International. Di sekolah Eun Bi memiliki sahabat, namanya Ara, Beti, dan Nur. Mereka berempat selalu bersama, tak disangka mereka dijuluki ‘empat sekawan’. Mereka selalu bersama saat di sekolah, main bersama sampai shopping pun bersama.
Hari esok telah tiba, hari ini hari senin saat nya di sekolah mereka melaksanakan upacara bendera. Mereka berempat berangkat ke sekolah bersama. Sesampai nya di sekolah, mereka berjalan ke kelas untuk menaruh tas mereka, lalu mereka menuju ke lapangan upacara.
Setelah upacara berakhir mereka masuk ke kelas bersama. Beberapa menit kemudian Ibu guru masuk dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pun dimulai. Kemudian setelah beberapa jam berlalu "bel" pun berbunyi, jam istirahat telah tiba, mereka segera bergegas menuju kantin yang ada di sekolah mereka untuk makan bersama. Selesai nya mereka makan, mereka masih ada KBM beberapa mata pelajaran lagi.
Beberapa jam terlewati bel pun berbunyi pertanda KBM telah selesai. Mereka berjalan keluar kelas untuk pulang ke rumah nya masing-masing.
Pada saat pulang sekolah Eun Bi pergi sendiri ke toko buku. Eun Bi ingin membeli novel terbaru karya penulis kesukaannya, saat di perjalanan, motor yang dipakai Eun Bi mogok. Padahal hari sudah gelap, dan langit nampak mendung pertanda hujan akan turun. Eun Bi tak tau ia ada dimana, baru pertama kali ia melewati jalan ini.
Eun Bi menunggu seseorang untuk diminta pertolongannya, namun tak ada yang bisa membantu. Eun ingat ia membawa ponsel dan segera ku hubungi Ara.
“Assalamu’alaikum Ara”
“Wa’alaikumsalam, Eun Bi ya?”
“Iya Ra”
“Ada apa Bi?”
“Ra, aku tersesat dan motor yang kubawa mogok. Tolong kamu kesini bantu aku” ucap Eun Bi memelas. Cukup lama Ara tak menjawab.
“Ra?”
“Hmm, maaf ya Bi, aku sedang tidak di rumah, aku tak bisa membantumu. Maaf sekali”
“Yah Ara, ya sudah aku minta tolong Beti saja” Ucapnya kecewa.
Eun Bi tutup sambungan telepon dengan Ara, dan segera ia cari nama Beti di contact handphonenya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaiakumsalam”
“Beti, apa kamu di rumah?”
“Ya tentu saja”
“Beti, kamu bisa jemput aku tidak? Aku tersesat dan motorku mogok”
“Kok bisa mogok?”
“Ya aku tidak tau, ayo dong tolong, disini aku sendiri”
“Duh gimana yah, aku sedang membantu ibu Bi, aku tidak bisa kesitu”
“Sebentar saja Ti, ayolah masa kamu tega sama sahabatmu sendiri?”
“Ya tidak bisa sih mau gimana?”
“Hmm ya sudah makasih”
Segera Eun Bi putus sambungan telepon dengan Beti, kesal ia dibuatnya. Eun Bi mencoba menelpon Nur, siapa tau dia bisa membantunya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
“Nur, aku butuh pertolongan, bantu aku”
“Bantu apa Bi?”
“Motorku mogok”
“Kalau begitu kejadiannya cari bengkel terdekat, kenapa lapor aku? Aku kan tidak bisa memperbaiki motormu”
“Disini tidak ada bengkel. Mau yah kamu kesini? Disini tidak ada satu orang pun yang ku kenal”
“Tapi ini udah malem Bi, aku tidak boleh keluar”
“Ayolah Nur tolong aku, masa kamu tega sama aku”
“Mau hujan Bi, aku tidak bisa, maaf”
Sambungan telepon terputus, pulsa Eun Bi pun habis. Dan semua yang ia kira bisa membantu semuanya beralasan. Eun Bi kesal dan ia kecewa pada mereka. Eun Bi mencari tempat duduk, dan duduk sendiri. Malam itu dingin sekali, dan ia sangat lelah.
Hari pun sudah gelap.
“Eun Bi, sedang apa kamu?” sapa Widia, teman satu sekolahnya namun beda kelas.
“Eh kamu Wi, ini motorku mogok, mau di dorong tapi sudah cape” jelasnya pada Widia.
“Bawa kerumahku saja Bi, kebetulan ayahku bisa menyervis kendaraan bermotor”
“Tidak apa-apa emangnya? Nanti ngrepotin ayahmu”
“Tidak kok, lagipula memang keahlian ayahku begitu”
“Baiklah” Eun Bi mendorong motor menuju rumah Widia, widia pun ikut membantu mendorong motor mogoknya.
Sesampainya di rumah Widia, Eun Bi dipersilahkan duduk dan motornya segera di perbaiki ayah Widia yang ternyata orangnya ramah sekali. Eun Bi dan Widia disuguhkan teh dan camilan. Hari sudah petang, menunjukkan waktu sholat maghrib.
“Wi, apa aku boleh ikut sholat?” tanya Eun Bi, entah mengapa hatinya tak tenang, karena ia belum melaksanakan sholat maghrib.
“Boleh boleh, ayo kita berjamaah, kebetulan aku juga belum sholat” jawab Widia.
Mereka pun sholat berjama’ah. Setelah selesai, mereka kembali ke ruang tamu, menunggu motorku normal kembali. Tak lama akhirnya motor Eun Bi bisa ia pergunakan untuk pulang. Eun Bi berterimakasih pada Widia dan ayah Widia tentunya. Eun Bi balas kebaikannya dengan memberikan beberapa lembar uang namun ayah Widia menolak, untuk ia tabung saja katanya.
Dan dari pengalaman ini Eun Bi mengerti bahwa real friend adalah bukan ia yang selalu ada disaat kita bahagia namun ia yang juga tetap ada disaat kita membutuhkan pertolongan. Semenjak kejadian itu, Eun Bi menjadi lebih dekat dengan Widia, dan ia sedikit menjauh dengan ketiga orang yang mengaku sahabat.
Ini bukan pertama kalinya mereka beralasan ketika Eun Bi membutuhkan bantuan, ia sadar jika mereka bukan sahabat yang sebenarnya. Eun Bi kecewa, sulit rasanya menghapus rasa kecewa apalagi yang membuat kecewa adalah orang terdekat.
Sabtu, 12 September 2015
Teman
Aku adalah siswi SMA N 1
International. Di sekolah aku memiliki sahabat, namanya Ara, Beti, dan Nur.
Kami berempat selalu bersama, tak ayal kami dijuluki ‘empat sekawan’. Aku pikir
mereka real friend tapi ternyata
bukan, mereka hanya akan ada ketika aku senang. Ketika aku membutuhkan
pertolongan, mereka selalu menghilang.
Pernah suatu kali aku pergi sendiri
ke toko buku. Aku ingin membeli novel terbaru karya penulis kesukaanku, saat di
perjalanan, motor yang ku pakai mogok. Padahal hari sudah gelap, dan langit
nampak mendung pertanda hujan akan turun. Aku tak tau aku ada dimana, baru
pertama aku melewati jalan ini.
Aku menunggu seseorang untuk kuminta
pertolongannya, namun tak ada yang bisa membantu. Aku ingat aku membawa ponsel
dan segera ku hubungi Ara.
“Assalamu’alaikum Ara”
“Wa’alaikumsalam, Lia ya?”
“Iya Ra”
“Ada apa Li?”
“Ra, aku tersesat dan motor yang
kubawa mogok. Plis kamu kesini bantu aku” ucapku memelas. Cukup lama Ara tak
menjawab.
“Ra?”
“Hmm, maaf ya Li, aku sedang tidak
di rumah, aku tak bisa membantumu. Maaf sekali”
“Yah Ara, yaudah deh aku minta
tolong Beti saja” Ucapku kecewa.
Ku tutup sambungan telepon dengan
Ara, dan segera ku cari nama Beti di contact handphoneku.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaiakumsalam”
“Beti, apa kamu di rumah?”
“Ya tentu saja”
“Beti, kamu bisa jemput aku gak? Aku
tersesat dan motorku mogok”
“Kok bisa mogok?”
“Ya gak tau, ayo dong plis, disini
aku sendiri”
“Duh gimana yah, aku sedang membantu
ibu Li, aku gak bisa kesitu”
“Sebentar saja Ti, ayolah masa kamu
tega sama sahabatmu sendiri?”
“Ya gak bisa sih gimana?”
“Hmm yaudah deh makasih”
Segera ku putus sambungan telepon
dengan Beti, kesal aku dibuatnya. Kucoba telpon Nur, siapa tau dia bisa membantuku.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
“Nur, aku butuh pertolongan, bantu
aku”
“Bantu apa Li?”
“Motorku mogok”
“Kalo gitu cari bengkel terdekat,
kenapa lapor aku? Aku kan gak bisa memperbaiki motormu”
“Disini
gak ada bengkel. Mau yah kamu kesini? Disini gak ada satu orang pun yang ku
kenal”
“Tapi
ini udah malem Li, aku gak boleh keluar”
“Ayolah
plis, masa kamu tega sih”
“Mau
hujan Li, aku gak bisa, maaf”
Sambungan
telepon terputus, pulsaku habis. Dan semua yang kukira bisa membantu semuanya
beralasan. Aku kesal dan aku kecewa pada mereka. Aku mencari tempat duduk, dan
duduk sendiri. Malam ini dingin sekali, dan aku sangat lelah.
“Lia,
sedang apa kamu?” sapa Widia, teman satu sekolahku namun beda kelas.
“Eh
kamu Wi, ini nih motorku mogok, mau di dorong tapi udah cape” jelasku pada
Widia.
“Bawa
kerumahku saja Li, kebetulan ayahku bisa menyervis kendaraan bermotor”
“Gak
papa? Nanti ngrepotin ayahmu”
“Gak
kok, lagipula memang keahlian ayahku begitu”
“Baiklah”
Aku mendorong motor menuju rumah Widia, widia pun membantu aku mendorong motor
mogokku.
Sesampainya
dirumah Widia, aku dipersilahkan duduk dan motorku segera di perbaiki ayah Widia
yang ternyata orangnya ramah sekali. Aku dan Widia disuguhkan teh dan camilan.
“Wi,
apa aku boleh ikut sholat?” tanyaku, entah mengapa hatiku tak tenang, rupanya
aku belum melaksanakan sholat maghrib.
“Boleh
boleh, ayo kita berjamaah, kebetulan aku juga belum sholat” jawab Widia.
Kami
pun sholat berjama’ah. Setelah selesai, kami kembali ke ruang tamu, menunggu
motorku normal kembali. Tak lama akhirnya motorku bisa kupergunakan untuk
pulang. Aku bertrimakasih pada Widia dan ayah Widia tentunya. Aku balas
kebaikannya dengan memberikan beberapa lembar uang namun ayah Widia menolak,
untuk kutabung saja katanya.
Dan
dari pengalaman ini aku mengerti bahwa real
friend adalah bukan ia yang selalu ada disaat kita bahagia namun ia yang
juga tetap ada disaat kita membutuhkan pertolongan. Semenjak kejadian itu, aku
menjadi lebih dekat dengan Widia, dan aku sedikit menjauh dengan ketiga orang
yang mengaku sahabat.
Ini
bukan pertama kalinya mereka beralasan ketika aku membutuhkan bantuan, aku
sadar jika mereka bukan sahabat yang sebenarnya. Aku kecewa, sulit rasanya
menghapus rasa kecewa apalagi yang membuat kecewa adalah orang terdekat.
“Li,
akhir-akhir ini kamu jadi jauh sama kita. Ada apa?” tanya Beti.
“Besok
kamu mau ikut?” tanya Ara.
“Tidak,
aku ada janji dengan seseorang” jawabku datar.
“Dengan
Widia? Kamu sekarang lebih dekat dengan dia. Kamu lebih memilih menemani dia
dari pada kita?” tanya Nur, dari nada bicaranya jelas ia tak suka.
“Iyah,
karena apa? Karena disaat aku kesusahan, kalian tak pernah ada, tak pernah
mengulurkan tangan untuk sekedar membantuku. Sedangkan Widia? Walaupun kami
baru kenal, tapi dia sudah banyak membantu. Kemana kalian disaat aku kesusahan?
Selalu beralasan ketika aku meminta pertolongan. Begitukah yang dinamakan
sahabat?” tuturku, mereka diam dan merasa tak enak padaku.
“Aku
lebih memilih menemani dia yang selalu ada untukku daripada dia yang hanya ada
ketika aku senang” ucapku dan kemudian meninggalkan mereka. Mereka menatapku,
dari bola matanya tersorot penyesalan. Tapi tak ada kata maaf terlontar,
terlalu gengsi kah? Atau terlalu sulitkah mengatakan ‘aku menyesal, aku minta maaf Lia’. Ah, sudahlah.
Pelajaran berharga
Dinginnya
angin malam terasa menusuk kulit Nana. Ditambah lagi ia duduk dilantai yang
dingin, kakinya ditekuk dan dipeluk, air matanya terus mengalir melewati
pipinya. Matanya sembab dan memerah, sudah 3 jam lebih ia menangis di pojokan
kamar, sendiri. Tangisnya ia sembunyikan.
Rumah
megah nan besar ini bagaikan neraka. Tak lagi ada kasih sayang diantara
penghuni rumah. Ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi ini.
**
“Hey,
kamu ini kenapa? Menangis lagi?” sapa Arif teman satu kelasnya. Nana melirik
sebal. Saat KBM selesai, kantin sepi. Mereka biasanya mampir ke kantin sebelum
pulang kerumah masing-masing.
“Sudahlah
Nana manis, jangan bermuram durja seperti itu. Mangke ayumu ilang piye?” tambah Arif menghibur. Nana pura-pura tak
mendengar.
“Orangtuamu
mungkin sedang sama-sama emosi, tak perlu dipikirkan, mereka tau yang terbaik”
Arif mulai berdalih.
“Diamlah!
Atau mulutmu akan ku plester?” ucap Nana dengan nada malas. Jarinya sibuk
menari diatas keyboard laptop yang ada dihadapannya.
“Nana
manis, kamu jangan marah-marah. Nanti cepet tua loh” Arif memandangi sahabatnya
itu, senyumnya masih terus mengembang di bibirnya.
“Bomat”
jawab Nana singkat.
“Kamu
ini sedang apa? Sibuk banget” Tanya Arif kepo. Dilihatnya monitor laptop Nana,
namun belum sempat melihat sudah ditutup oleh Nana.
“Eh
Rif, besok aku mau berpetualang. Mau ikut tak?” tutur Nana mulai bersemangat,
senyum yang dirindukan Arif hadir kembali. Arif adalah sahabat sedari SMP yang
paling mengerti. Bagi Nana, Arif sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri, usia
mereka beda 1 tahun. Sifat Arif yang mampu mengimbangi labilnya Nana membuat
persahabatan mereka semakin erat.
“Tak
lah, besok hari sabtu Na. Minggu saja bagaimana?” jawab Arif.
“Hmm,
kamu saja yang hari minggu. Aku mau besok saja. Aku juga bisa pergi sendiri.”
Ucap Nana mulai bete lagi, ia bangkit dari tempat duduknya, membayar bakso yang
ia makan. Dan pergi menginggalkan Arif.
“Oke
oke aku ikut. Memangnya mau kemana?” jerit Arif mengalah, ia tak tega membiarkan
sahabatnya yang sedang kacau balau itu pergi sendiri. Arif tau, Nana hanya
butuh perhatian dari orang sekitarnya.
“Kita
pergi ke Taman Kyai Langgeng Magelang” jawab Nana singkat.
“Hey
kamu gila? Magelang itu jauh” ucap Arif membuntuti Nana.
“Terserah
saja. Kamu mau ikut tidak?” tanya Nana, ditatapnya sahabatnya yang plin-plan
itu.
“Jangan
konyol Nana manis, kita baru saja masuk SMA. Kita hanya anak belasan tahun yang
belum dewasa. Kita pergi ke pantai saja bagaimana? Kamu kan suka suasana
pantai, oke manis?” bujuk Arif.
“Oke,
aku pergi ke Magelang dan kamu silahkan pergi ke pantai” ucap Nana memutuskan,
ia bergegas pulang. Arif diam, dipandanginya punggung sahabat tersayangnya yang
mulai menjauh. Ia faham dengan sifat Nana yang keras kepala.
Setibanya
dirumah Nana disambut dengan keributan orangtuanya. Ia muak, ia akan pergi dari
rumah. Ia benci hidup dirumah, ia sangat membenci orangtuanya, mereka sama
sekali tidak peduli dengan perasaan anaknya, batin Nana terluka.
Ia
segera masuk kamar dan dijatuhkannya dirinya ke atas kasur, ia terisak. Isaknya
ia sembunyikan didalam bantal bergambar popeye dan olive itu, hadiah dari
ayahnya sewaktu ulang tahunnya dulu. Dulu ia sangat menyayangi ayahnya, ayahnya
adalah figur terhebat dalam hidupnya, profesi ayahnya adalah pelaut, sifatnya
keras, karena memang ayahnya hidup di tengah laut yang keras, mau tak mau
karakternya terpatri dan manjadi pribadi yang keras.
Pria
berotot, berbadan kekar itu kini berubah menjadi monster yang seram. Perlakuan
lembut pada keluarganya berubah menjadi kasar. Suka bermain tangan jika sedang
bertengkar dengan ibunya dan ibunya yang suka memicu pertengkaran. Ah... aku benci mereka.
Dihapus
air matanya dan mulai berbenah. Perjalanan panjang akan dimulai. Tapi
sejujurnya ia ragu jika pergi sendiri, ia ingin ada yang menemani. ”Uh, anak tunggal yang tak memiliki
siapa-siapa. Teman? Arif? Penakut!” ucapnya sendiri kepada seisi kamar.
Drr
drr.drr drr
Ponselnya
bergetar, 1 sms masuk.
Arif : Aku jemput kamu pukul 6.30 pagi. Kita
ke Magelang.
Senyum Nana mulai mengembang, “Ini
baru yang namanya sahabat” teriaknya senang.
**
“Apa
kamu sudah izin dengan orangtuamu?” tanya Arif. Nana tak menjawab, pandangannya
tertuju pada gadis kecil yang sedang berjualan di tepi jalan.
“Hey
kamu patung? Aku ini sedang bertanya” ucap Arif dengan nada kesal.
“Gadis
kecil itu tidak sekolah Rif?” tanya Nana seraya memberi kode dengan tatapan
yang tertuju pada gadis kecil itu.
“Mungkin
dia bolos seperti kita” jawab Arif enteng. Nana menatap Arif dengan dengan
tatapan tajam.
“Hey
jangan menatapku seperti itu, oke oke lebih jelasnya kamu tanya saja pada gadis
kecil itu” ucap Arif. Nana membenarkan ucapan Arif. Ia berjalan menuju gadis
kecil itu, Arif memandanginya dari kejauhan.
“Jualan
apa de?” tanya Nana memulai percakapan.
“Jualan
gorengan ka” jawab gadis kecil itu.
“Kamu
gak sekolah?” tanya Nana. Gadis kecil itu memandangi Nana lalu menggeleng.
“Kenapa?”
“Gak
punya biaya mba”
“Orangtuamu kemana?”
“Ayahku lumpuh, ibuku sudah disurga”
wajah gadis kecil yang penuh peluh karena raja siang mulai terlihat murung nan
sedih.
“Maaf de, mba hanya ingin tau”
“Mba sendiri kenapa gak sekolah?”
tanya gadis kecil, pertanyaan yang membuat Nana tercekat. Nana diam, Arif yang
sudah berada disamping Nana tersenyum. Ia mendengarkan percakapan dua gadis
yang sama-sama tegar.
“Mba masih sekolah kan? Kenapa ada
di terminal padahal kan ini jam sekolah”
“Bolos sekolah” jawab Nana singkat.
“Loh kenapa?”
“Males”
“Mba gak boleh gitu, aku saja ingin
sekolah. Masa mba yang sekolah malah bolos sih?” Nana diam.
“Dulu, sewaktu ayahku masih sehat
dan ibuku masih hidup, aku bisa sekolah. Sampai maut menjemput ibuku, ibuku
jatuh sakit saat menerima surat cerai dari ayahku. Ayahku menikahi perempuan
lain, awalnya aku sangat benci keadaan itu, aku benci perempuan perusak
kebahagiaan keluargaku, akupun benci ayahku. Dan tak berselang lama dengan
kematian ibuku, ayahku kecelakaan, dan sekarang lumpuh. Perempuan perusak itu
pergi setelah tau ayahku tak bisa apa-apa. Dan sebagai anak yang berbakti,
tugasku adalah merawat ayahku. Rasa benci pada ayah hilang, aku kasihan dengan
keadaan ayah yang sekarang” gadis kecil itu bercerita dan membuat hati Nana
bergetar, ia kasihan dengan gadis kecil ini. Ia pun salut karena gadis kecil
ini begitu tegar.
“Aku menyesal telah membenci ayahku,
dan aku menyesal pernah menjadi anak nakal yang tak menuruti ucapan ibuku.
Ibuku telah tiada, aku harus patuh pada ayahku. Aku menyesal, seandainya bisa
kuputar ulang masa lalu, aku akan berbakti pada keduanya.” Tambah gadis kecil
itu.
Mendengar tutur gadis keci itu Nana pun
teringat kelakuannya kepada orangtuanya. Ia tak pernah menjawab pertanyaan
ibunya, berangkat dan pulang sekolah tak berpamitan, ia selalu membantah
omongan orangtuanya. Bagaimana jika mereka pergi untuk selamanya? Ia belum
berbakti pada mereka. Anak macam apa aku
ini? Batinnya menjerit. Ia menangis, ia menyesal. Ia pun rindu pelukan
ibunya, ia rindu cerita ayahnya ketika melaut, ia rindu masakan ibunya dan ia
rindu makan malam bersama keluarganya. Nana terisak.
Arif berusaha menenangkan Nana,
gadis kecil itu pun ikut menenangkan Nana. Setelah tangisnya mereda, ia
bangkit.
“De, terimakasih telah
menyadarkanku. Ini ada sedikit rezeki untukmu, mudah-mudahan ayahmu mendapat
keajaiban, bisa beraktifitas seperti dulu” ucap Nana menjabat tangan gadis
kecil itu dan memberikan 5 lembar uang seratus ribuan.
“Terimakasih kembali mba, Aamiin ya
Robbal’alamin. Tapi ini terlalu banyak mba”
“Tabung saja. Semoga bermanfaat”
ucap Nana, tangannya membelai rambut gadis kecil itu.
“Kita pulang. Perjalanan tlah
berakhir. Semua tangis harus diakhiri” ucap Nana melangkah menuju warung makan.
Arif lega.
“Loh kok? Katanya mau pulang?” ucap
Arif bingung.
“Kita makan dulu, setelah itu sholat
dan pergi ke taman Kyai Langgeng sebentar kemudian pulang” jelas Nana. Arif
mengangguk saja, kebetulan ia lapar.
**
Pukul
21.00 Nana sampai dirumah, ternyata ayah dan ibunya telah menunggunya.
“Nana,
kamu kemana saja sayang?” tanya ibunya, terpancar kekhawatiran dari wajahnya.
“Bu,
maafin Nana. Sikap Nana selama ini pasti menyakiti ibu” dibenamkan wajahnya
dalam pelukan ibunya, ia menangis.
“Ayah
juga minta maaf sayang, kami menyesal selalu bertengkar dihadapanmu” ucap ayah
Nana.
“Iya
ayah, Nana sayang ayah” Nana pun memeluk ayah dan ibunya.
Dan
malam itu, rumah yang seperti neraka berubah menjadi rumah pelangi yang indah. Ternyata aku hidup dikelilingi orang-orang
yang menyayangiku.
Langganan:
Postingan (Atom)